Makassar, harapanrakyat.info — Penjajahan datang silih berganti. Dulu datang dari laut, kini datang dari dalam negeri sendiri — dari balik meja berstempel dan pena birokrasi.
Kisah pilu ini bukan tentang masa kolonial, melainkan tentang seorang kakek Bugis-Makassar, keturunan Tjoddo bin Lauma, yang kini menatap langit-langit sel penjara sambil bertanya lirih, “Apakah ini negeri merdeka?”
Dari Pajak ke Penjara
Tanah keluarganya di Km 18, Makassar, telah dibayar pajaknya sejak masa Landrente, Pajak Hasil Bumi, IPEDA, hingga PBB modern.
Puluhan tahun mereka taat negara, tapi negara malah menukar ketaatan itu dengan borgol.
Abdul Jalali Dg. Nai (66) Ahli Waris Tjoddo, bukan maling, bukan koruptor, tapi kini ia mendekam di balik jeruji dikriminalisasi atas tanah warisan leluhurnya sendiri.
Rakyat kecil ini hanya meminta keadilan, tapi yang datang justru penjara.
Sementara di atas tanah yang sama, berdiri megah bangunan milik Indogrosir Makassar, anak perusahaan dari raksasa Salim Group.
Merdeka Hanya di Bibir
Orang tua-tua Bugis sering berkata, “Lereng tanah bisa runtuh, tapi siri’ (kehormatan) jangan hilang.”
Kini, kehormatan itu dihancurkan bukan oleh peluru, melainkan oleh rincik palsu dan sertifikat salah letak.
Dokumen palsu bisa melahirkan gedung, sementara dokumen asli melahirkan hukuman. Inilah logika terbalik republik hari ini.
Lebih Sadis daripada Penjajahan Belanda
Belanda dulu datang menjarah dengan kapal, hari ini perampasan datang dengan peta dan pena.
Dulu rakyat melawan dengan bambu runcing, kini rakyat lumpuh oleh cap birokrat.
Yang membuat luka ini semakin dalam, bukan karena tanah hilang, tetapi karena negara membisu.
Polisi, Jaksa, dan Lembaga Pertanahan seolah menutup mata, seakan-akan keadilan hanya milik yang punya gedung, bukan yang punya keringat.
Ironi di Tanah Sendiri
Tjoddo dulu membayar pajak demi negara. Kini, keturunannya dipaksa membayar harga pengkhianatan negara.
“Kami hanya ingin keadilan, bukan belas kasihan,” kata salah satu ahli waris di hadapan tim investigasi JAMC Makassar, Rabu (1/10).
Rakyat yang dulu berjuang melawan penjajahan asing, kini dijajah oleh sistem yang mereka bantu bangun sendiri.
Penutup: Negeri yang Lupa Akar
Inilah negeri di mana pajak jadi penjara,dokumen asli dikubur, dan pemalsuan disanjung.
Kakek Bugis-Makassar itu kini tinggal legenda — simbol betapa penindasan modern bisa lebih kejam daripada penjajahan kolonial.
“Kalau begini rupa kemerdekaan,” ujarnya dalam kesaksian terakhirnya, “lebih baik dijajah Belanda, setidaknya kami tahu siapa lawannya.”
Catatan Redaksi:
Kepada pihak-pihak yang disebut, diberikan ruang hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999. ***

