HR Mamasa – Sorotan tajam disampaikan Bupati Mamasa Welem Sambolangi saat menghadiri kegiatan Sekolah Lapang Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dan Agroforestry Sub DAS Mamasa yang digelar di Kecamatan Sumarorong, Jumat (22/8/2025).
Dihadapan peserta dan jajaran BP DAS Jeneberang-Saddang, Bupati menegaskan pentingnya keseriusan dalam rehabilitasi lingkungan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya dilihat dari jumlah bibit yang ditanam.
“Kalau hanya tanam lalu ditinggalkan, itu bukan solusi. Kita butuh data pohon yang tumbuh. Kalau mati, ya ganti. Jangan hanya formalitas untuk laporan,” ujarnya lantang.
Welem juga menyarankan agar program ditata lebih jelas mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Ia menolak Mamasa dijadikan sekadar tempat menjalankan program tanpa hasil. “Saya tidak mau Mamasa jadi tempat laporan saja. Harus ada dampak yang dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Kritik juga ia sampaikan terkait penggunaan bibit luar daerah yang seringkali gagal tumbuh. Ia meminta agar bibit yang digunakan berasal dari lokal Mamasa yang sudah terbukti cocok dengan kondisi tanah.
Sementara itu, Achmad Sudarno, perwakilan BP DAS Jeneberang-Saddang, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan rehabilitasi hutan seluas 1.537 hektare, membangun bronjong penahan erosi, serta membina kelompok tani hutan. Ia mengakui, tantangan terbesar adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga tanaman dan masalah ketidaksesuaian bibit.
Acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan efektivitas program lingkungan sekaligus memperkuat sinergi antarpihak agar program tidak hanya berhenti pada penanaman, tapi juga tumbuh dan memberi manfaat nyata.
ADV

