<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#indogrosir #beritaterkini #savetjoddo &#8211; Realita Indonesia</title>
	<atom:link href="https://www.realitaindonesia.co.id/tag/indogrosir-beritaterkini-savetjoddo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.realitaindonesia.co.id</link>
	<description>Indonesia News Update</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Oct 2025 09:15:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
	<item>
		<title>Dari Pajak ke Penjara: Kisah Hitam Km 18 Makassar</title>
		<link>https://www.realitaindonesia.co.id/pemerintahan/dari-pajak-ke-penjara-kisah-hitam-km-18-makassar/21967/</link>
					<comments>https://www.realitaindonesia.co.id/pemerintahan/dari-pajak-ke-penjara-kisah-hitam-km-18-makassar/21967/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Editor RI]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2025 09:05:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[DAERAH]]></category>
		<category><![CDATA[MAKASSAR]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONAL]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[PEMERINTAHAN]]></category>
		<category><![CDATA[#indogrosir #beritaterkini #savetjoddo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.harapanrakyat.info/?p=21967</guid>

					<description><![CDATA[Makassar, harapanrakyat.info — Konflik agraria di Km 18, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, bukan sekadar perebutan tanah. Ia adalah cermin ketimpangan struktural yang telanjang — antara rakyat pembayar pajak selama 65 tahun, melawan korporasi raksasa anak Salim Group yang berdiri di atas lahan yang sama. Nama Tjoddo bin Lauma telah tercatat sejak era Landrente (pajak [...]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Makassar</strong>, <em>harapanrakyat.info</em> — Konflik agraria di Km 18, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, bukan sekadar perebutan tanah.</p>
<p dir="ltr">Ia adalah cermin ketimpangan struktural yang telanjang — antara rakyat pembayar pajak selama 65 tahun, melawan korporasi raksasa anak Salim Group yang berdiri di atas lahan yang sama.</p>
<p dir="ltr">Nama Tjoddo bin Lauma telah tercatat sejak era Landrente (pajak hasil bumi kolonial), berlanjut ke IPEDA (1960-an), hingga PBB modern.</p>
<p dir="ltr">Namun kini, tanah itu berdiri megah menjadi Indogrosir Makassar, dan ahli warisnya, Abdul Jalali Dg. Nai (66), justru mendekam di penjara karena mempertahankan haknya sendiri.</p>
<p dir="ltr">“Tolong saya Pak Presiden… tanah saya dirampas Indogrosir Makassar. Sungguh keji. Salam hormat untuk Bapak Presiden.” — Abd. Jalali Dg. Nai, dalam video viral 1 juta penonton.</p>
<p dir="ltr">1. Kronologi Singkat: Dari Pajak ke Penjara</p>
<p dir="ltr">1940–1980-an: Tjoddo bin Lauma tercatat di Buku C1/F Kelurahan Pai, membayar pajak rutin (IPEDA–PBB) seluas ±5 hektar.</p>
<p dir="ltr">1984: Terbit SHM No. 490/1984 atas nama Annie Gretha Waraow, diduga duplikasi di atas objek sama.</p>
<p dir="ltr">2001: Labfor Polri menyatakan adanya indikasi rincik palsu Tjonra yang menjadi dasar peralihan hak.</p>
<p dir="ltr">2004: PK Mahkamah Agung lahir — menguatkan alas hak Annie, tapi sekaligus menyingkirkan hak Tjoddo. Inilah “titik gelap” sejarah yang mematikan harapan rakyat.</p>
<p dir="ltr">2014–2016: Terbit SHM ke-2 Annie (No. 25952/2014) dan SHGB No. 21970/2015–2016 a.n. 54 ahli waris Tjonra, lalu beralih ke PT Inti Cakrawala Citra (Indogrosir).</p>
<p dir="ltr">2022: Polda Sulsel menyelidiki letak SHM Annie 490/1984 — hasilnya: seharusnya di Km 20 (Bandara Maros), bukan Km 18.</p>
<p dir="ltr">2025: Jalali membayar PBB Rp122 juta, namun malah dipenjara setelah menolak menyerahkan tanahnya.</p>
<p dir="ltr">2. Ketimpangan yang Mencolok</p>
<p dir="ltr">Di atas kertas negara, nama Tjoddo hidup.</p>
<p dir="ltr">Di lapangan, haknya lenyap.</p>
<p dir="ltr">Data Bapenda Makassar (SISMIOP) menunjukkan dua NOP aktif di lokasi yang sama:</p>
<p dir="ltr">Wajib Pajak, Luas (m²), Tahun PBB Terutang.</p>
<p dir="ltr">Abd. Jalali (Tjoddo) 51.200 2025 Rp. 122.903.400</p>
<p dir="ltr">Tjonra / Indogrosir 57.500 → 3.240 2016–2021 Rp59 juta → Rp3,5 juta</p>
<p dir="ltr">Satu tanah, dua pajak, dua nama.</p>
<p dir="ltr">Rakyat bayar penuh — korporasi malah menyusutkan nilai pajaknya hingga 95%.</p>
<p dir="ltr">“Kalau di desa bisa diutak-atik, tapi di IPEDA tidak. Saya kerja 34 tahun di pajak, baru kali ini lihat tanah satu, pajaknya dua,” ujar Baso Lewa (81), mantan pegawai IPEDA, Rabu (1/10).</p>
<p dir="ltr">3. Pemerintah Tak Buta, Tapi Jauh dari Rakyat</p>
<p dir="ltr">Kasus ini telah masuk meja Komisi III DPR RI, Ombudsman, dan Kejati Sulsel, namun semuanya tampak jalan di tempat.</p>
<p dir="ltr">Seolah ada tembok besar bernama Indogrosir–Salim Group yang menutup mata pejabat dari jeritan rakyat.</p>
<p dir="ltr">Pemerintah tidak tuli — hanya terlalu jauh dari suara rakyat.</p>
<p dir="ltr">Mereka mendengar, tapi tidak merasa.</p>
<p dir="ltr">Mereka tahu, tapi tidak bergerak.</p>
<p dir="ltr">Sementara di sisi lain, rakyat kecil seperti Jalali harus merasakan dinginnya penjara karena berani mempertahankan tanah yang diakui negara melalui dokumen resmi.</p>
<p dir="ltr">4. Apa Solusinya?</p>
<p dir="ltr">1. Audit Fiskal Nasional:</p>
<p dir="ltr">Bapenda dan Inspektorat harus memeriksa anomali pajak ganda di Km 18.</p>
<p dir="ltr">2. Pemeriksaan Yuridis:</p>
<p dir="ltr">ATR/BPN Pusat wajib membuka warkah SHM 490/1984 &amp; 25952/2014 ke publik.</p>
<p dir="ltr">3. Koordinasi Lintas Lembaga:</p>
<p dir="ltr">Presiden dan Kejagung harus memerintahkan pemeriksaan dugaan maladministrasi dan penyalahgunaan wewenang di BPN Makassar.</p>
<p dir="ltr">4. Perlindungan Hukum bagi Rakyat:</p>
<p dir="ltr">Abdul Jalali harus mendapat rehabilitasi dan perlindungan hukum — karena tidak ada keadilan bila negara membiarkan rakyat dipenjarakan di atas tanahnya sendiri.</p>
<p dir="ltr">5. Catatan Penutup</p>
<p dir="ltr">Kasus Tjoddo vs Indogrosir Makassar bukan lagi soal sengketa.</p>
<p dir="ltr">Ia adalah uji moral bangsa, sejauh mana negara menegakkan keadilan di hadapan modal besar.</p>
<p dir="ltr">Dan jika pemerintah masih diam, sejarah akan mencatat: bahwa di negeri ini, rakyat bisa membayar pajak 65 tahun — hanya untuk akhirnya dipenjarakan di tanahnya sendiri.</p>
<p dir="ltr">Catata Redaksi: Kepada pihak-pihak yang disebut, diberikan ruang hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999.</p>
<p dir="ltr">Bersambung ke-Part 1 tayang di Media Aliansipers.com ..</p>
<p dir="ltr">JAMC NASIONAL</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.realitaindonesia.co.id/pemerintahan/dari-pajak-ke-penjara-kisah-hitam-km-18-makassar/21967/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
